Mengangkat Potensi Seledri Ciwidey: Rahasia Tanaman Daun di Dataran Tinggi
MAJALAHTEBAR.com. Mengangkat potensi seledri Ciwidey: rahasia tanaman daun di dataran tinggi Kawasan Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Kawasan ini menjadi lahan yang potensial untuk mengembangkan seledri sebagai komoditas unggulan. Lantas, apa yang membuat petani di Ciwidey begitu berhasil dalam budidaya seledri? Bagaimana mereka mengelola lahan agar tetap produktif dan efisien?
Seledri di daerah ini dari jenis seledri daun atau leaf celery. Jenis ini cukup diminati karena mudah diolah dan cocok sebagai pelengkap masakan sehari-hari.
Tanaman ini tumbuh dalam bentuk rumpun dan memiliki kebutuhan khusus dalam hal media tanam serta pengelolaan akar. Petani biasanya menyiapkan campuran tanah, kompos, dan pupuk kandang dengan komposisi seimbang, yakni 1:1:1. Selain itu, drainase yang baik menjadi syarat mutlak, sebab akar seledri sangat rentan mengalami pembusukan bila media terlalu lembab atau tergenang.
FOSFAT DAN KALSIUM
Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian dalam budidaya seledri adalah pemenuhan unsur hara, khususnya fosfat dan kalsium. Fosfat sangat dibutuhkan karena membantu memperbanyak anakan—semakin banyak anakan, maka potensi produksi juga meningkat. Fosfat dan kalsium berperan dalam memperkuat akar dan batang, sehingga dapat mengurangi risiko coplok akar yang sering dikeluhkan petani.
Beberapa jenis pupuk yang sangat direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan hara fosfat pada budidaya seledri antara lain SS (AMMOPHOS), MerokeMAP, dan NPK Mutiara SPRINTER. SS (AMMOPHOS) mengandung kombinasi Nitrogen (16%), Fosfat (20%), dan Sulfur (12%) yang sangat cocok untuk awal pertumbuhan vegetatif. MerokeMAP yang berbentuk kristal putih mengandung nitrogen dan fosfat larut air dan biasa digunakan dalam sistem fertigasi maupun sebagai stok B dalam AB Mix. Sementara itu, NPK Mutiara SPRINTER digunakan dalam fase pertumbuhan aktif untuk mendukung perkembangan daun dan batang.
PROGRAM PEMUPUKAN
Program pemupukan biasanya dimulai sejak awal pengolahan lahan dengan pemberian SS (AMMOPHOS) dan MerokeMOP. Memasuki usia tanaman 15 hingga 20 hari setelah tanam (HST), petani menambahkan NPK Mutiara SPRINTER bersama pupuk mikro seperti KARATE PLUS BORONI untuk mendukung pembentukan jaringan tanaman. Kombinasi ini kembali diberikan pada usia 35 HST. Selain itu, penyemprotan nutrisi foliar dilakukan setiap lima hingga tujuh hari untuk menjamin pasokan hara mikro langsung ke daun dan batang.
Ancaman hama dan penyakit dalam budidaya seledri biasanya berupa serangan thrips dan kutu daun yang dapat menyerang daun muda dan menurunkan kualitas panen. Upaya pengendalian dilakukan dengan penggunaan pestisida sesuai dosis yang dianjurkan dan tidak berlebihan untuk menjaga kesehatan tanaman dan lingkungan.
Seledri umumnya siap panen pada usia 50 hingga 60 hari, tergantung pada varietas dan kondisi cuaca. Tanda tanaman siap panen adalah daun yang lebat dan segar, batang yang cukup besar, serta aroma khas seledri yang kuat. Setelah dipanen, seledri langsung dicuci, ditiriskan, dan diikat per 5–10 batang, lalu disimpan di tempat teduh agar tetap segar. Karena umur simpan seledri relatif pendek, distribusi ke pasar perlu dilakukan segera setelah panen. Oleh karena itu, akses petani ke pasar menjadi nilai tambah dalam pengiriman yang cepat dan efisien.
Dari sisi pemasaran, seledri memiliki peluang besar karena permintaan konsumen cenderung stabil. Sistem penjualan bisa dilakukan secara harian maupun borongan untuk skala besar. Dengan dukungan kondisi alam Ciwidey, tenaga kerja lokal yang terampil, dan strategi budidaya yang tepat sasaran, seledri telah berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. *
**Untuk melihat program pemupukan tanaman, download App Petani Cerdas di Google Play Store dan Apple App Store.










