Hadriani: Usaha Keras Demplot Hasil Memuaskan
MAJALAHTEBAR.com. Perubahan iklim akhir-akhir ini, bahka menurut ramalan BMKG, musim panas saat ini paling panas selama ini. Ini berarti suatu tantangan baru bagi pertanian, terutama pertanian lahan rawa, yang mengandalkan air sebagai sarana dan prasarana utana.
Menurut Hadri, panggilan akrab Hadriani, Agronomist PT. Saprotan Utama Nusantara (PT. SUN) untuk sebagian wilayah Kalimantan Selatan ini, panas yang berkepanjangan petani lahan rawa bisa menghadapi beberapa kemungkinan.
Kemungkinan itu antara lain, petani bisa meningkatkan untuk bertanam karena lahan rawa airnya tidak begitu dalam, namun ini terbatas disekitar pemukiman saja, yang terjangkau secara keseluruhan. Maksudnya pengerjaan pengolahan lahan, budidaya tanaman hingga panen.
Namun perlu dipikirkan juga untuk pengangkutan hasil panen. Karena dilahan rawa lebak hasil panen diangkut melalui jalan air, selokan-selokan yang telah dipersiapkan bisa dilalui perahu kecil. Karena panas, tidak hujan, air selokan mengering sehingga untuk mengangkut hasil panen mengalami kesulitan.
MULAI DEMPLOT
Apapun yang terjadi di lapangan, sebagai petugas lapangan (Agronomi), tetap bekerja keras dengan segala upaya sesuai kemampuan dan kondisi yang ada. Bila mulai demplot, Hadri memperhatikan dahulu hal-hal yang kemungkinan akan terjadi di kemudian hari.
Misal, kondisi lahan, varitas tanaman, ramalan cuaca dan lain-lain. Karena demplot dituntut harus memberikan contoh hasil yang memuaskan bagib petani di sekitarnya. Namun kalau terpaksa gagal, sudah berusaha sesuai kemampuan, tetap terus di coba dan dicoba lagi sampai berhasil maksimal.
Hadri, yang wilayah kerjanya 6 kabupaten ini yaitu Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Tapin, mengakui tidak sedikit petani yang ingin mengikuti demplot tersebut, namun mengalami kegagalan.
Setelah dibicarakan ternyata petani melakukan kesalahan misal salah aplikasi, penggunaan pupuk kurang tepat, begitu pula pestisida, insektisida dan lain-lain.
“Bila menemui petani yang begini, kami melakukan pendampingan, komunikasi intensif dengan petani tersebut,” kata Hadri tegas.
Bila menemui yang panik saat melihat serangan hama dan penyakit mulai meningkat dan tidak terkendali walaupun sudah menyemprot berkali-kali. Cara instan dengan menyemprot sesering mungkin belum tentu membuat hama terkendali dengan cepat. Justeru makin banyak menyemprot bisa berarti makin boros. Berdampak pula kurang baik terhadap lingkungan seperti hama resisten dan risiko lainnya
Umumnya petani akan bertanya tanaman saya terserang apa dan obatnya apa serta bagaimana cara nyemprotnya,” ungkap Hadri menceritakan saat melakukan pendampingan petani.
Memang sekarang produk pengendali hama dan penyakit semakin banyak, semakin lengkap. Pilihan semakin banyak, memudahkan petani memilih produk walaupun bisa juga malah membuatnya bingung. Disinilah peran petugas lapangan sehingga petani merasa puas setelah mendapatkan kepastian.
Hal ini juga dalam pemilihan pupuk dan sarana lainnya. Maka, sebagai petugas lapangan, Hadri berusaha berbekal ilmu yang mumpuni.*










