Lakukan identifikasi OPT yang sedang petani hadapi sampai memperoleh kepastian. Minimal diketahui genusnya. Cari pestisida yang cocok untuk OPT sasaran.
MAJALAHTEBAR.com. Musim kemarau tahun ini menurut prediksi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) cenderung lebih kering dari tahun sebelumnya. Perubahan ini akan mempengaruhi produktivitas pertanian baik tanaman pangan maupun hortikultura di Tanah Air.
Panut Djojosumarto, pengamat pestisida menyatakan musim kemarau yang akan cenderung lebih kering berdampak pada keterbatasan sumber air. Petani akan mengalami masalah irigasi yang berupa pengairan yang berkurang dari musim sebelumnya.
Selain masalah irigasi, petani harus waspada terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Berdasarkan pengalaman beberapa musim sebelumnya yang pernah melewati kemarau panjang serangan hama lebih berat.
“Musim kemarau panjang akan ada dua tantangan berat. Yang pertama adalah resiko kekeringanatau kekurangan air. Yang kedua, di musim kemarau ancaman hama sering lebih berat,” ungkapnya saat menjawab pertanyaan TEBAR secara daring.
Cuaca panas yang membuat lingkungan areal tanam kering membawa keuntungan potensi penyakit akibat cendawan jauh berkurang. Umumnya penyakit seperti blast, phytopthora dan penyakit yang disebabkan oleh cendawan lainnya berkembang karena kelembaban lingkungan yang meningkat.
HAMA MENINGKAT DI MUSIM KEMARAU
Namun sebaliknya. Menurut Panut, secara umum kebanyakan penyakit tanaman akan merajalela di misim hujan, dan hama cenderung meningkat di musim kemarau. Petani perlu rajin melakukan pengamatan terhadap hama yang utama yang sering muncul pada tiap musim tanam.
Lantas, hama dan penyakit apa saja yang perlu diantisipasi petani dalam MT II tahun 2023 ini? Lakukan identifikasi OPT yang sedang petani hadapi sangat penting. Langkah ini perlu dilakukan sampai memperoleh kepastian. Minimal diketahui genusnya.
Dengan demikian, petani akan mendapatkan gambaran cara pengendalian yang tepat. Jika mengacu pada PHT maka perlu mengikuti beberapa langkah seperti pengendalian fisik, biologi menggunakan agens hayati. Langkah pungkasan menggunakan pestisida sebagai tindakan pengendalian kimiawi.
Sesuai prinsip penggunaan pestisida perlu mengikuti lima TEPAT. Prinsip ini antara lain TEPAT sasaran, TEPAT pestisida, TEPAT waktu, TEPAT takaran, TEPAT cara.
Bila mengikuti prinsip penggunaan pestisida tersebut, resistensi hama bisa dihindari. Untuk mengetahui apakah OPT sudah resisten atau belum, Panut menyarankan petani melihat hasil aplikasi.
Ada cara sederhana untuk mengetahui OPT cenderung mulai resisten. “Kalau biasanya OPT ANU bisa kita kendalikan dangan pestisìda ITU (takaran dan cara tertentu). Tiba-tiba suatu saat ANU tidak mati oleh ITU meski dengan takaran dan cara sama. Maka kita bisa menduga bahwa ITU sudah mulai kebal terhadap pestisida ITU,” jelasnya.
Ada beberapa fungisida yang cepat menimbulkan kekebalan/resistensi pada jamur patogen (resiko tinggi). Ada pula yang tidak pernah dilaporkan menimbulkan kekebalan (resiko rendah).
Kecuali faktor fungisidanya, ternyata jamur patogen juga ada yang cepat mengembangkan kekebalan (resistance build up) ada yang lambat. Mengutip dari Brent & Holloman (1998), Panut mencontohkan, penyakit yg cepat resisten (RESIKO TINGGI) termasuk penyakit sigatoka pada pisang, embun tepung pada serealia, Botrytis pada anggur, Phytophthora pada kentang, Pyricularia (blast) pada padi.
Penyakit dengan RESIKO SEDANG antara lain Rhyncosporium dan Septoria pada gandum. Penyakit dengan RESIKO RENDAH termasuk penyakit tular tanah, penyakit tular benih, karat daun (Puccinia) pada serealia dan hawar pelepah Rhizoctonia pada padi.
Apakah jamur patogen yang sudah kebal fungisida bisa peka kembali? Menurut Panut tergantung sebabnya. Kekebalan (resistensi) yang disebabkan oleh adaptasi fisiologis.
Kekebalan jenis ini biasanya tidak stabil dan dapat pulih (menjadi tidak kebal) kembali bila penggunaan fungisida yg bersangkutan dihentikan beberapa lama. Contohnya adalah kekebalan Phytophthora terhadap fungisida fenilamid (metalaksil, benalaksil, oksadiksil, ofurace, dll). Phytophthora dapat menjadi peka kembali bila penggunaan fenilamid dihentikan beberapa musim. Demikian pula kekebalan beberapa penyakit terhadap fungisida DMI (difenokonazol, helsakonazol, tebukonazol, dsb).
PERGILIRAN PESTISIDA
Jika sudah mendapati hama resisten, perlu mengganti jenis pestisida. Bahkan, sebelum restisten petani juga perlu melakukan pergiliran pestisida.
Bagaimana cara memilih pestisida yang tepat agar hasilnya efektif? “Cari pestisida yang cocok untuk OPT yang dimaksud. OPT sasaran ada dicantumkan pada label kemasan (pestisida),” terang Panut.
Pemerintah belakangan gencar mensosialisasikan budidaya tanaman sehat dengan penggunaan bahan organik dan pestisida nabati. Terlepas sejauh mana efektifitas upaya tersebut, yang jelas pertanaman yang sehat akan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap gangguan OPT. “Pertanaman yang sehat lebih bisa bertahan terhadap serangan OPT,” tandasnya.
Menghadapi dampak perubahan ikli, perlu langkah bersama dari berbagai pihak. Panut berharap pemerintah yang berkompeten dalam pembangunan, melakukan perbaikan sarana prasarana irigasi. Misalnya dengan perbaikan saluran, embung, waaduk dan sebagainya.
Sementara, bagi petani hendaknya menanam varitas yang tahan kekeringan. Balitbangtan telah melepas sejumlah varietas unggul padi yang toleran terhadap dampak perubahan iklim. Varietas unggul padi yang telah teruji toleransinya terhadap kekeringan adalah Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, dan Inpago Lipigo 4.
Sementara, padi sawah irigasi yang relatif toleran terhadap kekeringan antara lain varietas Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20 dengan potensi hasil 8,0-9,5 t/ha. Keempat varietas unggul ini tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB).*










