Home / Pestisida

Senin, 12 September 2022 - 14:58 WIB

Swasembada di Tengah Naiknya Harga Saprodi

Pemerintah diharapkan bisa menyerap produksi ketika harga di petani murah untuk meringankan beban petani. Harga sarana produksi juga baiknya diturunkan agar petani kembali bergairah dalam budidaya pertanian.

MAJALAHTEBAR.com. Menjelang masa tanam, sebagian besar petani di beberapa wilayah di Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan modal dalam budidaya tanamannya. Hal ini disebabkan karena harga sarana produksi (saprodi), khususnya pupuk non subsidi dan pestisida mengalami kenaikan harga.

Belum lagi saat musim panen tiba, kondisi yang terjadi saat ini banyak tanaman padi maupun bawang merah yang diserang oleh hama dan penyakit. Secara tidak langsung, harga jual gabah maupun bawang merah di tingkat petani stagnan atau tidak mengalami kenaikan.

Kondisi naik turunnya harga produksi hortikultura, termasuk padi dan bawang merah, merupakan persoalan klasik. Kejadian ini terus menerus berulang setiap tahun tanpa ada solusi yang mumpuni dan perlu langkah yang konkret.

Ketika masalah ini terjadi, pemerintah hanya menanggapi secara reaktif jangka pendek. Solusinya hanya ada dua, yaitu: operasi pasar dan impor. Hasilnya Indonesia net importir produk pangan. Khusus pangan sayuran, pada 2021 Indonesia masih mengimpor sarana produksi, khususnya bahan baku dan produk pestisida serta produk pupuk beserta bahan bakunya. Diluar bahan baku, tahun lalu Indonesia mengimpor pupuk sebanyak 8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan yang mencapai lebih dari 26 juta ton pertahun.

Baca juga  Budidaya Pertanian Untuk Mendapatkan Harga Yang Maksimal

Disisi lain, petani saat ini banyak yang mengeluhkan harga pupuk non subsidi dan pestisida yang mengalami kenaikan. Hal ini makin diperparah ketika tanaman padi maupun bawang merah diserang oleh hama dan penyakit. Sementara harga jual gabah malah turun, jadi membuat banyak petani yang mengeluh karena merugi.

Banyak pihak yang mengharapkan biaya saprodi pertanian bisa ditekan, khususnya kehadiran pemerintah dalam penyediaan pupuk bersubsidi yang sesuai dengan kebutuhan dalam rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK).

Masyarakat di Indonesia merupakan pemakan bawang merah terbesar di dunia. Menurut data BPS, tingkat konsumsinya telah mencapai 3,647 kg perkapita per tahun atau lebih dari ½ ons per minggu. Angka itu naik 8% disbanding tahun sebelumnya.

Baca juga  Tanamannya Sehat Produksinya Meningkat

Ketika pasokannya terus berkurang seperti sekarang, telah memicu harga yang makin melambung. Naiknya harga bawang merah konsumsi, mendorong petani untuk menjual seluruh produksi. Termasuk askip alias bawang merah yang sudah kering setelah dijemur sekitar seminggu, ternyata bisa dimanfaatkan sebagai sumber bibit, juga turut dijual. Saat ini petani kembali mau menanam, karena benih menjadi langka karna harganya pun naik.

Terhadap kemelut naiknya harga saprodi tahun ini, tampaknya pemerintah hanya minta kepada ppetani supaya harga dari komoditi seperti bawang merah dan padi itu diturunkan. Sementara akibat anomaly cuaca memicu gagal panen, sehingga pasokan seret. Ditambah lagi, harga sarana produksi seperti pestisida dan pupuk non subsidi yang naiknya gila-gilaan dibiarkan.

Petani berharap supaya pemerintah harus bisa menyerap produksi ketika harga di petani murah. Hal ini dilakukan paling tidak untuk menstabilkan harga. Harga sarana produksi juga baiknya diturunkan.*

 

Share :

Baca Juga

Pestisida

“Sex Pheromon”: Gangguan Kawin Serangga Hama Penggerek Batang Padi

Pestisida

Jurus Nardi Berkelit dari Rongrongan Hama dan Penyakit Cabai

Pestisida

Panen Raya Jagung PT SUN di Kediri, Jawa Timur

Pestisida

PT Saprotan Utama Nusantara Berikan Apresiasi Kepada Mitra Berprestasi

Pestisida

Kemarau Panjang Petani Tetap Bisa Bercocok Tanam

Pestisida

Memperkenalkan Teknologi Canggih Terbaru ke Petani

Pestisida

Wamen Faisol Riza Lepas Ekspor 120 Ton Pestisida ke Filipina

Pestisida

Petrosida Gresik Jungle Land at Petro Agrifood Expo 2023