Riswan Sukses Bertanam Kentang Setelah Menerapkan Cara Ini
Riswan sukses bertanam kentang setelah menerapkan cara ini. Kuncinya menggunakan FORSIL, biostimulan yang membuat daun hijau, tanaman kokoh dan panen berlimpah. Penggunaan Nemaguard 10 GR di wilayah endemic NSK, tanaman yang terselamatkan hingga 70%.
MAJALAHTEBAR.com. Budidaya kentang tergolong menantang bagi petani muda seperti Riswan. Gangguan penyakit mengancam tanaman seperti busuk daun (Pythophthora infestans), layu Fusarium (Fusarium oxysporum), bercak daun (Alternaria solani), serta kerdil (akibat virus dan nematoda). Belum lagi gangguan hama seperti uret, thrips dan lainnya.
Hanya petani yang memiliki semangat tinggi dengan pengalaman matang mampu mengantisipasi. Sebagai petani muda Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Riswan memiliki jurus jitu mengatasi tantangan budiaya kentang.
Petani 32 tahun ini banyak memanfaatkan pupuk kandang. Sementara untuk perlindungan tanaman, ia memilih produk pestisida yang harganya lebih terjangkau namun memiliki kualitas mumpuni.
Selain melakukan perlindaungan tanaman dari serangan hama penyakit yang ketat, masih ada satu rahasia lagi yang membuat Riswan sukses. “Agar tanamannya kuat, mulai umur 1 bulan, saya semprotkan biostimulan Forsil. Penyemprotan dicampur dengan fungisida juga tidak apa-apa. Tidak menggumpal,” ujar Riswan.
Dalam satu musim tanam, Riswan mengaplikasikan biostimulan lebih dari 10 kali. “Lebih banyak lebih baik,” kilahnya. Kenyataan, dua hari setelah semprot saja hasilnya sudah tampak.
Daun menjadi lebih hijau bahkan daunnya lebih rimbun. Secara keseluruhan, tanamannya juga kuat tidak mudah roboh. Dan yang lebih penting, Riswan mengakui bahwa hasil panen melimpah.
Selain itu, dengan caranya tersebut, Riswan mampu menekan biaya produksi. Total biaya untuk menanam 1 ton benih sekitar 40an juta.
Dari 1 ton benih, rata-rata Riswan menuai panen 17 ton kentang konsumsi. Dengan harga jual di Uluere rata-rata 12.000 per kg, permusim tanam Riswan memperoleh penghasilan 204 juta rupiah.
Dari menggeluti usaha kentang, kini Riswan sudah memiliki rumah kayu (adat) sendiri. Mampu membeli mobil Jazz serta mobil pick up.
Saat petani lain mengeluhkan produksi belum bisa meningkat, Riswan malah menambah luas tanam. Jika sebelumnya menanam kentang di lahan sekitar 2.000 m2 yang ia tanami dengan 200kg benih kentang.
Secara perlahan tapi pasti, dengan ketekunan dan semangat kerja cerdas usahanya terus berkembang. Sekarang, permusim tanam, rata-rata ia menanam 1 ton benih, atau sekitar 1 hektar.
KENTANG LEBIH MENJANJIKAN
Pawit dan Amid, petani Granola di Kawasan Grogol, Banjarnegara, Jawa Tengah memiliki pengalaman serupa. Bagi mereka kentang menjadi pilihan utama dalam berusaha tani hortikultura di dataran tinggi.
“Saya mulai belajar bertani kentang sekitar 15 tahun silam. Namun, menjadi petani mandiri dimulai pada 2013. Tiap tahun, saya menanam 3 kali,” ujar Pawit.
Sementara Amid mengaku mulai menekuni usaha tani kentang sejak 2013. “Di dataran tinggi, kentang lebih menjanjikan dibandingkan komoditas lain, karena harga jualnya terbilang stabil. Oleh karena itu, sejak menjadi petani, saya langsung menanam kentang,” kilahnya.
Saat mulai berusaha, Amid hanya mengupayakan 50kg benih dengan ¼ rol mulsa. “Saat ini, total lahan yang diusahakan lebih dari 1 hektar, dengan sistem penanaman bertahap,” ujarnya.
Sekali tanam Amid menghabiskan 800 kg benih. “Diluar benih, modal yang dikeluarkan sekitar Rp. 15 juta sampai Rp. 20 juta,” tandasnya.
Pawit dan Amid tidak memungkiri dalam mengusahakan kentang selalu dirongrong ancaman hama maupun penyakit. “Di wilayah Banjarnegara, petani kentang dipusingkan oleh serangan orong-orong, uret, siput kecil, dan ulat tanah,” ucap Pawit.
Disisi lain, orong-orong disinyalir sudah kebal terhadap karbofuran, sehingga perlu insektisida yang lebih bagus. Kedua petani ini mengandalkan Nemaguard 10 GR.
Dwi Aji, petugas lapang PT Mitra Kreasidharma Wilayah Banjarnegara, merekomendasikan petani mengaplikasikan Nemaguard 10 GR diaplikasikan 2 kali. Yaitu pada waktu tanam dan pada fase generative saat pemupukan susulan di usia 40 HST ke atas. Terlebih bila ada serangan Nematoda Sista Kuning (NSK) yang gejala serangannya mulai tampak pada usia tanaman 30-40 hari setelah tanam (HST).
Nemaguard 10 GR dapat juga menjadi pengendali kuratif. Hasilnya, di wilayah endemic NSK, tanaman yang terselamatkan hingga 70%.
Bila aplikasinya tidak dicampur dan penanaman menggunakan mulsa, kebutuhan Nemaguard 10 GR sebanyak 2 kg per rol (600 – 800 lubang tanam). Aplikasi yang paling efektif yaitu pada lubang tanam. Konsentrasi rata-rata per lubang tanam sangat irit hanya ½ – 1 gram.
Pengendalian hama di atas permukaan tanah, seperti kutu Aphid, Thrips, penggorok daun, kutu kebul, dan ulat. Sedangkan penyakitnya antara lain ialah busuk daun alias lodoh
MENJAGA SEJAK AWAL
“Hingga sekarang, budidaya kentang tetap diancam penyakit busuk daun. Terlebih pada penanaman musim hujan, kondisi lembap sangat disenangi penyakit busuk daun. Oleh karena itu, tanaman harus dijaga sejak awal sebelum terjadi serangan,” terang Pawit.
“Seperti Mas Pawit, saya beralih memanfaatkan produk MKD sejak 2021 silam. Beberapa produk dari MKD yang saya andalkan adalah Potanil 75 WP fungisida bahan aktif simoksanil 8% + mancozeb 64%, dan Zebindo 80 WP. Sedangkan insektisidanya yaitu abamektin 72 g/l dan klorfenapir 320 g/l.
Amid menyebut, penyemprotan pertama ia lakukan ketika tanaman kentang berusia 15 HST. Per drum 200 liter, ia mencampurkan 250gram Potanil 75 WP, 200 gram simoksanil 8% + mancozeb 64% dan 100ml klorfenapir 320 g/l. Dengan membuat racikan seperti itu, menurut Amid, hama penyakit kentang terkendali.
Bagi Pawit dan Amid, kehadiran produk-produk MKD sudah sesuai harapan petani. “Kualitas produk mumpuni dan produknya mudah diperoleh. Petugas MKD juga ramah dan bisa dipercaya, mudah diajak diskusi, serta mau datang ke kebun. Itulah yang dibutuhkan petani,” pungkas Pawit. *










