APROPI Agrochembiz Show Indonesia 2026 Pestisida Bermutu Kawal Keamanan Pangan
APROPI Agrochembiz Show Indonesia 2026 Pestisida Bermutu Kawal Keamanan Pangan. Produktivitas pertanian terjaga, swasembada pangan berkelanjutan. Produsen pestisida menjadi tuan di negeri sendiri.
MAJALAHTEBAR.com. Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) bekerjasama dengan Agrochembiz dan Union Agrochemical Trade (UAT) serta Kementrian Pertanian Republik Indonesia kembali menggelar Event tahunan bagi pelaku usaha Pestisida dan Pupuk di Swissotel Pantai Indah Kapuk Jakarta 15-16 September 2026. Event bertajuk APROPI Agrochembiz Show 2026 ini mengusung tema “Pestisida Bermutu Kawal Keamanan Pangan”.
Peresmian oleh Kementrian Pertanian yang diwakili oleh Kepala Pusat Perlindungan Varitas Tanaman dan Perijinan Pertanian (PPVTPP) Indra Zakariya Rayusman, S.H., M.H. Hadir pula Ir. Nelson Metubun, S.P., M.P., Direktur Pestisida, Ditjen PSP Kementan, ketua APROPI yaitu Yannuarius Nunuhitu, dan perwakilan anggota APROPI. Dilanjutkan dengan mengunjungi stand pameran yang ada di dalam satu hall.
Selain pameran, dibuka pula sesi seminar mengulas topik Inti dari Pupuk Khusus Seawinner – Inovasi yang Memberdayakan Ekosistem Industri Pupuk. Pembicara antara lain Alan Xu, Manager of Qingdao Seawin Biotech Group, Edward Li, Marketing Manager of Beijing dan Raj Kumar Agarwal, General Manager of Raj Consultings.
Ir. Yanurius Nunuhito, Ketua Umum APROPI mengatakan, pameran diikuti oleh 63 produsen pestisida dan pupuk yang berasal dari China dan India. Event besar ini mampu menarik perhatian lebih dari 500 pengunjung dari berbagai daerah.
Yano sapaan akrab Yanurius Nunuhito, menambahkan, alokasi anggaran ketahanan pangan dalam anggaran negara tahun 2026 meningkat tajam menjadi Rp 164,4 triliun. Perubahan ini menghasilkan capaian besar, produksi beras nasional 34,71 juta ton. Meningkat 13.36% dari tahun 2024 dan berhasil surplus 3,52 juta ton. Indonesia tidak mengimpor beras konsumsi selama 2025.
PESTISIDA BERMUTU
Kepala Pusat Perlindungan Varitas Tanaman dan Perijinan Pertanian (PPVTPP) Indra Zakariya Rayusman, S.H., M.H. memaparkan, pertanian menghadapi tantangan yang makin komplek seperti perubahan iklim, degradasi lahan, perubahan pola serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) serta tuntutan konsumen terhadap pangan yang aman dan berkualitas. “Karena itu perlu mendorong pengembangan pestisida dengan risiko lebih rendah, bio pestisida teknologi formulasi baru, aplikasi yang presisi dan pengendalian hama yang berkelanjutan. Pendekatannya bukan hanya seberapa banyak pestisida tersedia, tetapi seberapa bermutu, aman, efektif dan tepat penggunaannya,” jelasnya.
Sementara Ir. Nelson Metubun, S.P., M.P., Direktur Pestisida, Ditjen PSP Kementan menekankan, pupuk dan pestisida memegang peranan penting dalam mengurangi penurunan hasil akibat OPT dan mendukung peningkatan produksi pertanian. “Industri pestisida dalam negeri perlu menciptakan solusi inovatif dalam mengendalikan OPTsehingga dapat memberikan dukungan kepada petani dan menjaga ketahanan pangan. Kami berharap jumlah bertambah secara positif sehingga banyak pilihan petani dalam menjaga kelangsungan produktivitas pertanian,” terangnya.
Nelson menambahkan, saat ini Kementan tengah merevisi peraturan tentang pengawasan pupuk dan pestisida karena peredaran di lapangan sangat dinamis. “Kita mengawasi petisida yang dijual bebas melalui e-commerse dan cross border. Peredaaran yang disatu sisi menguntungkan petani dalam mendapatkan produk yang lebih cepat. Namun di sisi lain memperbesar peluang pestisida yang illegal, palsu dan lainnya. Kita perlu regulasi terpadu untuk mengimbangi peredaran pestisida,” urainya.
Terkait produksi pestisida, Yano menyatakan, anggota APROPI saat ini ada 14 perusahaan, menjadi terdepan dalam memproduksi formulasi yang berkualitas dengan harga terjangkau. “Kami berharap para pabrikan/produsen ini bisa setidaknya menjadi tuan rumah di negari sendiri. Syukur-syukur bisa seperti India yang mulai mampu mengejar China sebagai produsen pestisida,” pungkasnya.*










