Jangan Kalah oleh Hama Penyakit, Yuk Atasi Tantangan Budidaya Kembang Kol!
MAJALAHTEBAR.com. Kondisi kembang kol dikatakan baik saat daun tanaman kembang kol tampak mengkilap dan sehat, batangnya tebal serta daun-daunnya masif dan kuat. Dengan kondisi ini, pola pemupukan menjadi hal penting untuk dipertimbangkan.
Pada fase awal pertumbuhan, pupuk yang digunakan adalah KARATE PLUS BORONI dan NPK Mutiara 16-16-16 melalui sistem kocor dengan frekuensi 10 hari sekali pada umur tanaman 5, 15, dan 25 hari. Selanjutnya, untuk fase berikutnya diganti menggunakan NPK Mutiara GROWER dengan peningkatan dosis, sementara KARATE PLUS BORONI tetap diberikan dengan dosis yang sama sejak awal.
Selain pemupukan dasar, perlu aplikasi foliar untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman. Pertama menggunakan MerokeMAG-S.
Aplikasikan rutin bersamaan dengan PROVIT HIJAU. Rotasi aplikasi foliar dilakukan setiap 10 hari, dengan jeda 5 hari setelah penyiraman pupuk kocor. Hal ini untuk menjaga nutrisi daun dan merangsang pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Saat tanaman memasuki fase transisi dari vegetatif ke generatif, gunakan PROVIT MERAH diikuti PROVIT MAXI. PROVIT MERAH memiliki kandungan fosfor (P) yang tinggi sehingga membantu percepatan pembentukan bunga kembang kol. Harapannya, tanaman kembang kol dapat berbunga dan menghasilkan kepala kembang yang sempurna dan berkualitas.
HAMA TIKUS
Namun, budidaya kembang kol tidaklah selalu mulus karena ada ancaman serangan hama tikus. Selain hama tikus, penyakit yang sering muncul terutama setelah musim hujan adalah busuk pada krop tanaman kaaren bakteri Erwinia. Untuk pengendalian penyakit ini, penggunaan bahan aktif tembaga menjadi pilihan yang umum.
Meski ada serangan jamur, kerusakan yang terjadi tidak terlalu serius karena perlindungan tambahan dari KARATE PLUS BORONI yang mengandung kalsium. Kalsium ini membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap serangan penyakit sehingga kerugian dapat diminimalisasi.
Perlu diingat bahwa KARATE PLUS BORONI sendiri bukanlah pestisida yang secara langsung membunuh hama, melainkan pupuk yang membantu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan. Namun demikian, penggunaan pestisida tetap harus dilakukan secara bijaksana dan sesuai kebutuhan karena toleransi tanaman terhadap penyakit memiliki batas tertentu.
MerokeFITOFLEX sebagai pupuk mikro mengandung tembaga, besi, mangan, seng, boron, dan molibdenum yang sangat dibutuhkan tetapi dalam dosis sangat kecil. Oleh karena itu, penggunaan pupuk seperti ini harus hati-hati agar tidak terjadi kelebihan yang dapat merusak tanaman.
Pemakaian pupuk logam seperti MerokeFITOFLEX direkomendasikan dalam dosis 2,5 sampai 5 gram per tangki yang berisi 16 sampai 20 liter air. Penggunaan secara proporsional sangat penting agar tanaman mendapatkan manfaat optimal tanpa risiko keracunan unsur hara mikro. Selain pupuk, pestisida yang juga berbasis logam harus digunakan dengan bijak supaya tidak menimbulkan efek negatif pada tanaman dan lingkungan.
Secara keseluruhan, bertani kembang kol bukan hanya soal modal atau biaya saja, tetapi juga butuh ilmu dan pengetahuan yang komprehensif. Mulai dari pengenalan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga pemanenan harus dipahami secara menyeluruh agar hasil yang diperoleh maksimal dan usaha tani berjalan dengan lancar.
Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya kembang kol, petani harus memberdayakan semua sumber yang dimiliki, termasuk informasi terkini dan diskusi dengan ahli pertanian. Pendampingan dan pengawalan budidaya secara berkala juga sangat membantu menjaga tanaman tetap sehat dan produktif. Tentunya dengan ilmu dan pengalaman yang terus diperbarui adalah kunci kesuksesan bertani kembang kol.*
**Untuk melihat program pemupukan tanaman, download App Petani Cerdas di Google Play Store dan Apple App Store.










