Dosis Tepat Saat Kemarau
Dosis tepat saat kemarau menentukan keberhasilan panen cabai. Tanaman mendapatkan nutrisi cukup, terlindungi dari gangguan hama dengan produk MKD.
MAJALAHTEBAR.com. Baik pada musim hujan, apalagi musim kemarau. Melihat pasar yang terus membutuhkan pasokan cabai, para petani dibeberapa wilayah tidak patah semangat untuk terus menanam cabai.
Endri Prasmono salah satu petani asal Kayu Aro, Kerinci Jambi menyampaikan bahwa pasar di wilayah Jambi dan Sumatera Barat setiap harinya membutuhkan pasokan cabai keriting.
Maka dari itu, Endri selalu mengupayakan untuk menanam sebanyak 3-4 rol mulsa dengan populasi 9.000 sampai 12.000 tanaman. Kemarau panjang sering kali menjadi momen berkembang biaknya hama seperti thrips, kutu daun, dan lalat buah, serta penyakit akibat jamur dan bakteri yang bertahan dalam mikroiklim kering dan panas.
Dibandingkan tujuh tahun yang lalu, lanjutnya, hama dan penyakit cabai masa sekarang lebih banyak, mungkin karena kondisi alamnya sudah berubah. “Sejak 2023, intensitas serangan lalat buah terus meningkat. Hal itu berbeda jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ucap petani yang telah menanam cabai keriting sejak 2017 ini.
KEMARAU PACU POPULASI HAMA
Musim kemarau yang panjang kerap menciptakan lingkungan yang mendukung populasi beberapa hama berkembang dengan cepat. Kondisi kering dan suhu yang tinggi menjadi faktor pendorong utama bagi beberapa jenis serangga untuk mempercepat siklus hidupnya dan meningkatkan intensitas serangan pada tanaman cabai.
Berbagai hama dan penyakit yang kerap mengganggu pada budidaya cabai keriting dan cabai rawit, yakni virus gemini, layu bakteri, layu fusarium, hama thrips, ulat grayak dan tungau.
“Pada penanaman awal musim hujan, intensitas serangan virus gemini bisa mencapai 50%. Setelah hujan terus-menerus, serangannya menurun, paling tinggi sekitar 15%. Karena kelembapan menjadi tinggi, biasanya muncul penyakit layu bakteri atau layu fusarium,” bebernya.
Sementara hama, taambahnya, tetap ada walaupun serangannya tidak seberat dibandingkan pada musim kemarau. Dari pengalaman Endri di Kayu Aro, pada musim kemarau, hama yang kerap hadir di kebun cabai keriting adalah lalat buah (Bactrocera spp.), kutu kebul (Bemisia tabaci), hama trips (Thrips palmi), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat bor (Helicoverpa armigera), serta tungau (Tarsonemus sp. )
Dan Poliphagotarsonemus latus). Sedangkan pada musim hujan yakni lalat buah, penyakit kresek (Cercospora capsici), layu bakteri (Pseudomonas solaracearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), serta Phytophthora capsiciyang menyebabkan busuk ranting, batang, dan akar.
Meski selalu ditimpa hama dan penyakit, hingga kini Ipung dan Endri masih eksis untuk mengusahakan cabai. Menurut Endri, keberhasilan budidaya cabai terletak pada kepiawaian merawat tanaman.
Oleh karena itu, sejak persiapan lahan hingga habis panen, tanaman harus dirawat secara telaten dan berkala. Demi mencapai hasil tanaman cabai yang maksimal, Endri sudah beralih menggunakan produk-produk MKD sejak dua tahun yang lalu.
PRODUK MKD ANDALAN
Produk MKD yang menjadi andalan Endri yakni insektisida Nemaguard 10 GR (oksamil 10%), Metindo 40 SP, Mition 500 EC, Rotraz 200 EC dan Android 72 EC (abamektin 72 g/l).
Sedangkan fungisidanya yaitu Potanil 75 WP, Zebindo 80 WP (mancozeb 80%), dan Folirfos 400 SL (asam fosfit 400 g/l). Ditambah biostimulan FORSIL. “Saya memilih produk MKD karena kualitasnya bagus dapat diandalkan, harganya terjangkau dan sudah saya buktikan dalam dua tahun terakhir ini,” ujar Endri.
Pada tahap persiapan lahan, Endri sudah mengaplikasikan Nemaguard 10 GR. Pemberian insektisida untuk mengendalikan hama ulat tanah ini dilakukan pada saat pemupukan dasar.
“Dosisnya cukup 1 kg Nemaguard 10 GR per 50 kg pupuk,” tambahnya. Sementara penyemprotan baru dilakukan Endri ketika tanaman memasuki umur 30 hari setelah tanam (HST). Pada penyemprotan pertama, ke dalam tanki knapsack 16 loter Endri membuat campuran 10-15 gram Metindo 40 SP, 15 Rotraz 200 EC, 20 gram Sebindo 80 WP dan 30-40 ml Folirfos 400 SL.
“Formula ini saya pertahankan hingga penyemprotan kelima. Interval penyemprotan 7 hari sekali. Kemudian diubah 5 hari sekali ketika tanaman berumur 60 HST,” ucapnya. Guna mendukung tanaman cabai tumbuh optimal, tidak lupa Endri memanfaatkan biostimulan Forsil. “Forsil mulai saya gunakan pada penyemprotan ketiga atau pada usia 44 HST.
CEGAH BUNGA RONTOK
Penyemprotan dengan Forsil diulang selang 2 kali penyemprotan pestisida. Dalam satu musim tanam, penggunaan Forsil sebanyak 10 sampai 15 kali aplikasi. Pada masa vegetative, dosisnya 20 ml per tanki 16 liter. Dan pada masa generative, dosisnya dinaikkan menjadi 30ml per tanki,” jelasnya.
Dengan perlakuan seperti itu, menurut Endri, tanaman terus mengeluarkan tunas baru dan berbunga. Bunganya pun tidak mudah rontok.
“Kandungan silika pada Forsil sangat berpengaruh. Tanaman menjadi lebih kokoh dengan daun hijau mengkilap. Demikian juga pada buahnya. Daun dan buah seperti terlapisi lilin sehingga mengurangi intensitas serangan penyakit,” imbuhnya.
Tak hanya itu, “Kuantitas dan kualitas hasil panen juga meningkat. Sebelum saya menggunakan Forsil, produksi cabai keriting rata-rata hanya 0.5kg per tanaman, dengan daya simpan sekitar 5 hari.
Setelah menambahkan Forsil, produksi meningkat sekitar 0.8-1kg pertanaman. Warna buahnya merah menyala dengan daya tahan simpan lebih bagus yaitu 10 sampai 15 hari usai panen cabai tetap segar,” papar Endri.
Endri Prasmono telah membuktikan, dengan mengadopsi teknologi perlindungan tanaman cabai keriting yang tepat, budidaya cabai keriting dapat diusahakan sepanjang tahun. Tak hanya hambatan hama dan penyakit yang dapat dihindari, hasil panennya pun selalu memuaskan.
“Produk-produk MKD terbukti mampu membantu kelancaran usaha tani saya,” ucap Endri dengan penuh rasa syukur.
Ketika tantangan musim kemarau datang mengetuk pintu petani, harapan akan keberhasilan tetap menyala. Lewat pemahaman yang tepat mengenai karakteristik hama di musim kering, penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), serta pemilihan produk-produk MKD yang berkualitas dengan dosis yang akurat, petani mampu menjaga produktivitas tanaman cabai bahkan dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun.
Terbukti buah cabai yang dihasilkan lebih mulus, berwarna merah cerah, dan memiliki daya simpan lebih baik, faktor penting untuk pemasaran, baik ke pasar tradisional maupun supermarket modern.
Musim kemarau tidak bisa dihindari, tapi dapat diantisipasi. Dengan perencanaan yang matang, penggunaan pestisida secara bija, dan mengandalkan produk-produk unggulan yang telah teruji, musim kering justri bisa menjadi lading peluang, bukan sekedar untuk bertahan, melainkan masa panen yang menggembirakan.
Kini saatnya para petani cabai di Indonesia menatap musim kemarau bukan dengan kekhawatiran, tapi dengan kesiapan. Karena dosis yang tepat adalah kunci-bagi pertanian yang tangguh, produktif dan berkelanjutan.*










