Cara menguntungkan aplikasi pestisida di musim kering yakni didahului dengan penggunaan Bactenik dan Sidanik. Keduanya bisa meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Susuli dengan Saptabio dan Trichosida.
MAJALAHTEBAR.com.Cuaca ekstrem sedang menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Mulai dari penyebab terjadinya, hingga impilkasinya untuk kehidupan sehari-hari.
Cuaca ekstrem terjadi sebagai akibat tidak langsung dari adanya efek rumah kaca yang memengaruhi intensitas cahaya matahari yang masuk dan terperangkap di bumi. Cuaca ekstrem kerap dipengaruhi oleh terganggunya daur air alami yang menyebabkan ketidakstabilan pada kondisi cuaca di Indonesia.
Perubahan iklim dewasa ini secara langsung maupun tak langsung meningkatkan risiko bagi petani. Penyebabnya karena perubahan iklim telah meningkatkan intensitas serangan hama dan penyakit tanaman. Keadaan kemarau tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan tanaman dan mengakibatkan kekeringan serta biasanya berpengaruh terhadap peningkatan serangan Organisme pengganggu Tumbuhan (OPT)
Dalam prinsip pengendalian hama terpadu (PHT), petani bukan sekadar subyek, apalagi obyek pasif yang bekerja sebagai orang yang menanam komoditas pertanian saja. “Petani dalam PHT sejatinya adalah seorang ahli, seorang pengamat, seorang peneliti pada lingkungannya, dalam konteks ini lahan pertaniannya.
Tidak hanya mengamati lahan terkait kemunculan hama penyakit dan penanggulangannya secara ramah lingkungan, misalnya membangun ekosistem lahan yang sehat, tetapi juga mengamati pola curah hujan yang terjadi. Oleh karena itu diharapkan dengan adanya peringatan dini OPT ini bisa menjadi panduan petani dalam lebih mengintensifkan pengamatan munculnya OPT pada tanamannya sehingga dapat mengurangi kerugian.
Dengan kondisi tersebut, Petrosida Gresik melalui petugas lapang yang ada di seluruh daerah melakukan Sosialisasi yang dilakukan kepada petani terkait pola tanam yang menggabungkan teknis pengendalian hama terpadu atau yang biasa dikenal dengan PHT.
Mulai dari penyiapan lahan yang sehat, yaitu pengolahan tanah awal sekaligus sanitasi gulma. Penambahan kapur pertanian bila pH tanah rendah, juga selalu menekankan petani agar menggunakan bahan organik di musim kemarau karena dengan tingkat porositas tanah yang tinggi yang memicu hilangnya air lebih cepat.
Pemanfaatan bahan organik diharapkan bisa meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dengan penggunaan pupuk organik (Bactenik dan Sidanik). Pegendalian patogen tular tanah seperti layu fusarium dan layu bakteri dengan aplikasi Saptabio dan Trichosida. Salah satu fungsi dari Trichosida adalah sebagai anti bacteri pada saat perlakuan benih atau bibit.
Aplikasi Penyemprotan Pestisida
Penentuan waktu aplikasi didasarkan pada ambang ekonomi (AE), ada juga yang menggunakan istilah ambang tindakan pengendalian (AP). Cara ini merupakan salah satu variasi dari aplikasi kuratif dan merupakan cara yang dianjurkan dalam pengendalian hama terpadu (PHT).
Pada cara ini, penyemprotan dilakukan jika populasi hama atau intensitas serangan penyakit telah mencapai suatu nilai tertentu, yang disebut nilai ambang ekonomi atau nilai ambang pengendalian. Sebagai contoh, dalam menangani kasus hama wereng, Penyemprotan dilakukan jika populasi wereng mencapai 10 tor nimfa wereng per rumpun padi.
Selain pertimbangan-pertimbangan di atas (perkembangan OPT dan jenis pestisida), faktor cuaca sangat menentukan kapan pestisida diaplikasikan. Faktor-faktor cuaca yang penting untuk dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
- Gerakan Udara
Bila pada saat penvemprotan tidak ada angin sama sekali, droplet yang di-semprotkan akan segera jatuh lurus ke bawah sesudah lepas dari dorongan tekanan sprayer. Bila ada angin vang sesuai, droplet (terutama droplet yang halus sempat “melayang-layang” dan “berputar-putar” terlebih dahulu sebelum menempel pada sasaran.
Penyemprotan juga jangan dilakukan saat angin kencang, karena berakibat sebagai berikut:
- Pestisida yang diaplikasikan tidak seluruhnya mengenai bidang sasaran, sehingga recovery penyemprotan rendah.
- Distribusi droplet tidak merata
- Banyak drift (droplet halus yang keluar dari bidang sasaran) yang dapat mencemari lingkungan nontarget. Palam hal herbisida, drift dapat mengenai tanaman tetangga yang tidak toleran terhadap herbisida tersebut.
- Presipitasi
Penyemprotan yang dilakukan pada saat musim kering kerap kali mudah menguap dan hilang di udara. Oleh karena itu penggunaan bahan tambahan berupa penembus dan perata perlu digunakan seperti Mixida yang memiliki kemampuan mempercepat masuknya pestisida ke dalam jaringan tanaman serta membantu meratakan jika terkena di daun.
- Kelembapan Udara
Di sebagian besar wilayah Indonesia kelembapan udara umumnya tidak menjadi hambatan bagi aplikasi pestisida, Bila udara kering, droplet sempotan dari formulasi pestisida yang dalam aplikasinya dicampur ajr (water based formulation), terutama vang sangat halus, akan mudah menguap tidak mengenai sasaran.*










