Daya Tahan Kuat Ditengah Pancaroba
Daya tahan kuat ditengah pancaroba menggunakan produk-produk yang dimiliki oleh MKD, Selain kualitas dan harganya terjangkau, kehadiran produk MKD didukung para petugas di lapangan.
MAJALAHTEBAR.com. Perubahan iklim global yang semakin terasa dalam beberapa dekade terakhir memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pertanian. Salah satu fenomena yang kini kian sering terjadi adalah pancaroba — masa peralihan musim yang ditandai dengan ketidakpastian cuaca, intensitas hujan yang tidak menentu, perubahan suhu ekstrem, serta kelembapan yang fluktuatif.
Bagi dunia pertanian, pancaroba bukan hanya soal tantangan cuaca, tetapi juga ancaman serius terhadap keberlangsungan produksi dan ketahanan pangan. Petani di berbagai daerah di Indonesia kini menghadapi musim tanam yang sulit diprediksi.
Ketika musim kemarau memanjang secara tiba-tiba atau hujan turun di luar perkiraan, siklus tanam terganggu, dan serangan hama serta penyakit tanaman meningkat drastis. Hal ini tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga mengancam stabilitas pendapatan petani. Dalam situasi seperti ini, ketahanan tanaman menjadi kunci utama. Namun, ketahanan tersebut tidak bisa dibiarkan tumbuh secara alami—ia harus didukung oleh teknologi dan perlindungan yang memadai.
Salah satu pendekatan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi masa pancaroba adalah penggunaan pestisida yang tepat guna dan andal. Pestisida berperan penting dalam menekan perkembangan populasi hama yang kerap melonjak saat kondisi lingkungan berubah drastis.
Namun, tidak semua pestisida mampu bertahan dan bekerja efektif di tengah dinamika cuaca seperti ini. Diperlukan produk yang terbukti tangguh, cepat bereaksi, serta aman bagi tanaman dan lingkungan.
PT Mitra Kreasidharma hadir sebagai salah satu pelopor dalam mendukung pertanian Indonesia menghadapi tantangan tersebut. Melalui produk-produk pestisida unggul seperti Lannate 20 WP, Lannate 40 SP, Zebindo 80 WP, dan Indomec 20 EC, perusahaan ini menawarkan solusi perlindungan tanaman yang telah teruji dalam berbagai kondisi cuaca, termasuk saat pancaroba.
PANCAROBA DAN DAMPAKNYA PADA TANAMAN
Pancaroba merupakan masa transisi antara musim hujan dan musim kemarau, atau sebaliknya. Dalam konteks Indonesia yang beriklim tropis, pancaroba terjadi dua kali dalam setahun dan ditandai oleh ketidakstabilan cuaca. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan suhu yang berubah-ubah secara ekstrem, tetapi juga diiringi oleh angin kencang, kelembapan yang tinggi, serta intensitas hujan yang tidak menentu—kadang deras dalam waktu singkat, kadang pula sama sekali tidak turun selama berminggu-minggu.
Kondisi seperti ini menyebabkan tekanan lingkungan yang signifikan bagi tanaman. Akibatnya, tanaman menjadi lebih rentan terhadap gangguan fisiologis, penurunan metabolisme, serta terbuka terhadap infeksi berbagai jenis patogen, baik jamur, bakteri, maupun virus. Ketidakpastian iklim juga membuat perencanaan tanam menjadi lebih sulit, karena petani tak lagi bisa mengandalkan kalender musim tanam konvensional.
CARA GIAT MELINDUNGI TANAMAN, AGAR PANEN MUMPUNI
Tidak peduli musim hujan, apalagi kemarau karena setiap tahun mereka tetap gigih dalam menanam tomat. Hasil panennya selalu optimal karena mereka sudah mampu menemukan cara merawat tanaman dengan baik.
Bagi banyak petani, seperti Zulhamtoni dan Lochkung Sihombing, mengusahakan tomat tetap menjanjikan keuntungan besar. Terlebih, tomat sudah menjadi kebutuhan pokok yang wajib tersedia setiap hari di pasar. Apalagi bila melihat harga tomat saat ini yang terus membaik.
Sepanjang bulan Januari sampai pertengahan Februari 2025, harga tomat di tingkat produsen di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, berkisar Rp. 8.000 sampai Rp. 12.000 per Kg. Sedangkan di Pasar Induk Kramatjati Jakarta pada kurun waktu yang sama, harganya dibanderol Rp. 20.000 sampai Rp. 23.000 per kg.
“Sepanjang tahun saya menekuni usaha tani aneka sayuran, termasuk tomat. Hingga saat ini saya sudah menanam kurang lebih 7.000 tanaman tomat pada luasan ½ hectare,” ungkap Zulhamtoni (38), petani tomat di Kawasan Agam, Sumatera Barat. Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan, penanaman tomat ia tumpangsarikan dengan cabai dan caisim.
USAHA SAYURAN MENJANJIKAN
Menurut Toni, sapaan akrab Zulhamtoni, peluang usaha tani sayuran di wilayah Agam masih sangan menjanjikan. “Sudah 15 tahun saya menjadi petani sayuran, dan Alhamdulillah hasilnya sangat menggembirakan. Keluarga dapat hidup sejahtera, anak-anak bisa sekolah, mampu membangun rumah, dan membeli kendaraan,” akunya.
Demikian halnya yang dilakukan oleh Lochkung Sihombong yang sedang mengusahakan 3.000 tanaman tomat di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. “Pulang mengembara dari Batam, pada 2019 saya langsung menekuni usaha tani. Dan hingga kini saya masih mengusahakan aneka sayuran, termasuk tomat,” imbuhnya.
Dari hasil usaha taninya itu, Sihombing mengaku mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga ke perguruan tinggi. “Kalau uangnya tidak Nampak, tapi anak-anak bisa kuliah dan kami hidup sejahtera,” tandasnya merendah.
Zulhamtoni dan Lochkung Sihombing mengakui selama proses budidaya tomat selalu dihadapkan dengan rongrongan hama dan penyakit. “Dari sekian banyak hama yang paling susah dikendalikan adalah Thrips yang mengakibatkan penyakit brekele (keriting). Sedangkan pentakitnya yaitu busuk daun, terlebih pada musim hujan seperti sekarang,” ungkap Toni.
Menurut Fiki Fernando, Agronomist PT Mitra Kreasidharma (MKD) Wilayah Sumatera Barat, selain Thrips dan busuk daun (Pyhtophthora infestans), yang menjadi penghambat budidaya tomat di wilayah tersebut adalah patek atau antraknosa (Colletotrichum sp.), bercak daun atau kresek (Alternaria solani), layu Fusarium (Fusarium oxysporum), kutu kebul (Bemisia tabaci), dan pengorok daun (Liriomyza sp.). “Paling dominan pada musim hujan yaitu busuk daun, patek, dan kutu kebul,” jelasnya.
Pada musim kemarau, hama yang dominan mengganggu adalah pengorok daun dan ulat penggerek buah (Heliothis armigera). Biasanya, pengorok daun mulai menyerang sejak tanaman masih muda. Sementara ulat mulai banyak menyerang ketika tanaman tomat masuk fase generative, pada usia 40 hari setelah tanam (HST) ke atas. Bila salah pengendalian, tanaman bisa rusak dan hasil panennya tidak layak jual.
PENYAKIT MATI GADIS
“Selain hama dan penyakit tersebut, di Sumatera Utara ditemukan juga penyakit mati gadis. Pada fase generatif, tanaman tiba-tiba layu dan mati,” ungkap Laksana Fajar Ginting, Marketing Executive wilayah Sumatera Utara. “Khusus di daerah Humbang Hasundutan, selain mati gadis, yang menjadi kendala di lapangan yaitu penyakit busuk daun dan busuk, batang,” imbuh Wiky, petugas lapang MKD wilayah Humbahas.
Keefektifan dan keandalan produk-produk yang dimiliki oleh MKD dirasakan juga oleh Sihombing. “Sejak mengenal MKD dua tahun lalu, pengendalian hama penyakit menjadi lebih mudah,” akunya. Selain harganya lebih terjangkau, lanjut dia, ternyata kualitas produk MKD bagus dan bisa diandalkan.
“Pertama kali saya percaya kepada produk MKD waktu kejadian tanaman kentang saya rusak oleh penyakit busuk daun. Setelah ditangani dengan Folirfos 400 SL, Nemispor 80 WP dan Potanil 75 WP, tanaman saya pulih kembali,” bebernya.
Sejak itu Sihombing terus mengandalkan produk-produk MKD pada budidaya sayuran. “Selain kualitas dan harganya terjangkau, kehadiran produk MKD didukung para petugas di lapangan. Mereka selalu hadir, dapat diajak berdiskusi kapan saja kalau ada masalah di lapangan, dan mereka memberi solusi,” ujar Lockhung Sihombing.*










