Getah Darah di Pohon Lembah
MAJALAHTEBAR.com. Getah Darah di Pohon Lembah. Langsung saja. Begini kejadian yang dialami saya dan teman-teman tenaga bangunan ketika menebang pepohonan akan didirikan bangunan di suatu lembah dekat pinggiran sungai temasuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kejadian ini cukup langka dan membuat merinding bulu kuduk. Kejadian ini dalam hati saya dapat di buat menjadi sebuah kalimat sebagaimana judul ini: getah darah di pepohonan lembah.
Pagi sekitar jam 8 saya berenam mulai bekerja. Kebetulan tempat yang akan didirikan bangunan lokasinya dilembah pinggiran sungai masih rimbun dengan semak belukar dan banyak pepohonan. Seperti biasa sebelum mulai kerja bangunan, kami berenam membersihkan semak belukar dan memotong pepohonan tersebut.
“Hati-hati dan selalu waspada ya teman-teman karena tempat rimbun semak belukar dan sepertinya gimana begitu dalam perasaan saya (bahasa Jawanya angker),” kata pimpinan tukang.
DOA DAHULU
Kemudian di sahut teman-teman dengan aneka komentar atau kata-kata. Ada yang bilang kita doa dulu semoga tidak ada apa-apa dan lancar, ada yang bilang betul terutama ular berbisa, ada yang bilang sudahlah kita kerjakan tekad serius dan sungguh- sungguh iblis syetan akan ketakutan dan seterusnya.
Kemudian saya berenam kerja membabat memangkas semak-semak dan aneka tanaman perdu dan membersihkan tempat yang akan didirikan bangunan tersebut. Dalam pekerjaan ini banyak menemui hewan-hewan kecil dan beberapa ular, serta ada ular berbisa terus dibunuh.
Sedangkan pohon-pohon yang dipandang besar akan dipotong dan ditebang hari berikutnya.
Setelah seharian kerja saya berenam istirahat disewakan satu rumah didekat lokasi itu. Malam itu setelah makan malam ngomong-ngomong kecil dan tak lama kemudian berenam tidur pulas. Maklum lelah seharian kerja keras.
Malam itu saya bermimpi, seolah-olah berdiri di suatu tempat lapangan hijau. Dalam mimpi itu melihat orang-orang namun wajahnya aneh-aneh pada nangis. Saya tidak tega melihat mendengarkan rintihan tangisannya tersebut dan mau menolong, namun apa yang bisa saya lakukan. Dalam pada itu saya terbangun.
Satelah nengok di hp jam dua lebih sepuluh menit. Saya terus sholat malam dan sampai pagi tidak tidur. Sedikitpun tak ada pikiran apa-apa tentang mimpi semalam. “Itu cuma bunga tidur,” ujar saya.
Pagi sekitar jam 8 saya berenam mulai kerja. Sesuai jadwal pekerjaan potong pohon dan menebang pohon. Pohon-pohon yang tidak begitu besar mudah dipotong dan ditumpuk ditepi lahan itu.
Masih ada 3 pohon besar tersisa. Dan akan ditebang satu-satu dikeroyok berenam. Jadi satu pohon dipotong dan ditebang berenam.
Karena mau menebang pohon besar yang rimbun dan perasaan merasa aneh saya berenam berdoa dulu. Berenam memotong sesuai kesibukan masing-masing disebuah pohon besar itu.
Namun betapa kaget dan timbul pertanyaan setelah salah satu teman saya menotong dahan getahnya berwarna merah. “ Sini-sini kok aneh, getahnya warna merah,” kata teman kencang. Teman yang lain ngomong: “ di bagian sini getah biasa putih.”
GETAH MERAH
Salah satu teman yang mendekat kemudian mencium getah merah tersebut, “amis-amis,” ujarnya keras. Kemudian berenam berkumpul di dahan yang getahnya merah dan amis itu.
Di sisi lain yang dibatang besar juga mulai menunjukkan getah berubah menjadi merah dan dicium juga amis.
“Apa-apa an ini. Aneh. Baru kali ini saya menemui seperti ini ……. “, dan banyak lagi komentar teman yang semuanya merasa heran, aneh dan tak masuk akal.
Dalam batin saya, apa ini jin iblis yang menjelma jadi pohon atau pohon ini dihuni jin iblis, entahlah. Apa ini ada kaitannya dengan mimpi saya semalam. Orang-orang aneh itu ibarat pohon dan menangis karena mau dipotong ditebang.
Setelah berembug berenam sepakat menghentikan pekerjaan itu dan menghubungi pihak pemilik untuk langkah berikutnya. Karena setiap memulai memotong pohon-pohon itu getah berwarna merah dan berbau amis atau disebut keluar darah atau dahan berdarah.
Beberapa hari kemudian pemilik dan saya berenam mendatangkan orang pintar gaib atau orang yang menguasai misteri alam ini. Dengan berbagai sarana dan doa dari orang pintar tersebut akhirnya dapat teratasi.
Pohon diootong dan ditebang seperti kebanyakkan pohon pada umumnya. Getah berwarna putih dan tidak berbau amis. Pohon-pohon diangkut sesuai petuntukkanya. Kemudian kami berenam mulai pekerjaan bangunan sesuai yang telah disepakati.*
Akhir penyampaian Tukijo kepada TEBAR










