Sosok Kepala di Jalan Tol
MAJALAHTEBAR.com. Hilangkan rasa khawatir dan ragu-ragu, karena bisa membuat suasana jadi tidak menentu. Hal ini saya alami sendiri.
Malam itu saya merasa ragu-ragu mau balik ke Surabaya. Akhirnya saya putuskan malam jalan pelan agar esoknya ada waktu longgar.
Saya mengendarai mobil mini bus. Dalam benak sebelum berangkat, sempat was-was, karena sudah menunjukkan pukul duabelas lebih.
Sejak berangkat hanya sendirian dalam perjalanan itu. ‘’Sudahlah semoga semua lancar sampai Surabaya,’’kata saya dalam hati.
Setelah acara selesai langsung saya menuju parkir mobil sambil baca Bismilah dan memulai perjalanan. Selama menyetir, saya merasa tenang-tenang saja.
Karena jalan sangat sepi mobil melaju dengan kecepatan 100 -120 km/jam. Selama dalam perjalanan untuk menghibur diri dan agar tidak mengantuk saya membaca sholawat. Kadang disela dengan membaca ayat-ayat sesuai keyakinan saya, dan selalu konsentrasi pada kondisi perjalanan.
Saya merahasiakan termasuk wilayah mana, karena dapat membayangi pembaca. Saya merasa perjalanan malam itu tidak seperti biasanya, sulit diungkapkan. Sejauh-jauh mata memandang tidak kelihatan kendaraan baik yang jalan searah maupun lawan arah. Sementara di bagian belakang terlihat dari kaca spion juga gelap, tidak ada tanda-tanda sorot kendaraan.
“Semoga tidak ada apa-apa dan selamat sampai rumah. Malam ini sepi sekali,” kata saya.
Untuk menambah kemantapan dalam berkendara, saya semakin kencang dalam membaca ayat-ayat menurut keyakinan saya. Ingat nasehat teman, kalau menghadapi apapun harus tetap tenang dan tetap hati-hati dan selalu ingat dan pasti pada Tuhan, maka semua akan baik-baik saja. Saya mengurangi kecepatan mobil menjadi 70 km/jam.
BAU BANGKAI
Dalam pada kondisi tersebut, tiba-tiba saya merasa ada bau bangkai tajam sekali, seperti bau bangkai tikus yang telah dikerumuni belatung. Saat itu juga saya membaca ayat sesuai keyakinan saya semakin kencang dan tetap tenang stabil mengendarai mobil. Kemudian terdengar suara menggelegar menggema di dalam mobil. Entah dari mana asal suara itu, sepertinya dari angkasa nadanya seperti suara petir menyambar-nyambar.
Saya jadi ingat bahwa itu suara raksasa banaspati, yang kebanyakkan mengganggu di sekitar hutan, makam dan lahan terbuka.
Meskipun pernah menemui hal tersebut, saya tetap tenang diselimuti terasa ngeri campur merinding. Seketika itu juga mengurangi kecepatan jadi 50 – 60 km/jam.
Pandangan saya serius di depan pada jalan. Setelah berjalan sekitar satu kilo terlihat di jalan semakin gelap. Mobil terasa ada kendala di gas tidak mau santer, tetap pelan, walaupun jalan sepi untuk antisipasi keamanan maka saya ambil jalur paling kiri. Lama-lama makin pelan. “Ada apa ini,” berkata demikian mobil berhenti, mesin mati. “Waduh….. dan sssstttt ketika mata melihat ke depan bagian mobil sebelah kanan terlihat jelas ada sosok makhluk aneh.
Hanya wujud kepala doang, muka seram, mulut menyala merah, rambut panjang gimbal. Bagian leher menetes – netes darah. Pada saat itu saya tidak dapat berucap, badan sulit digerakkan. Saya memejamkan mata. Saya merasa ketika kejadian tersebut tidak terlihat satupun kendaraan yang melintas.
Ketika memejamkan mata dan tertelungkup di dasbort mobil itu saya hanya berdoa kepada Tuhan “ Tuhan yang Maha Suci, selamatkan saya, lindungilah saya dan berilah saya panjang umur dan banyak ucapan yang lain.”
Entah mengapa tiba-tiba saya merasa mobil menyala dan ac mobil semilir mengeluarkan angin tertuju tubuh saya. Terasa demikian, saya pelan-pelan membuja mata dan bangun dsri telungkup. Syukurlah suasana jadi seperti biasanya. Mobil saya tampak menepi parkir di bahu jalan dengan kondisi lampu darurat menyala kedap-kedip. Padahal saya tidak merasa menyalakan.
“Terima kasih yaa Tuhan, Engkau telah menyelamatkan saya.”
Anehnya, kondisi jalan tol semua tampak sepi sekali, ternyata seperti biasanya ada beberapa kendaraan yang lewat.
Kemudian saya melanjutkan perjalanan dan beberapa waktu berikutnya sampailah di Surabaya.*
Demikian Sardi menceritakan kepada Tebar










