Manusia Tanpa Kepala
MAJALAHTEBAR.com. Ini kenangan lebih 30 tahun lalu bersama alumni teman SMA dari Yogyakarta. Sebut saja panggilan akrabnya Itok. Langsung saja begini alur ceritanya:
Saya bersama Itok mengendarai mobil Jeep menuju lokasi proyek di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Mula-mula perjalanan dari Kota Padang lancar-lancar saja.
Namun begitu memasuki Jalan Raya termasuk wilayah Solok menuju Sawahlunto, Sumatera Barat malam itu sekitar jam 20 an saya merasa aneh. Saya merasa dalam hati dan pikiran ada sesuatu.
Namun saya diam saja. Khawatir kurang pas dan malah menjadi kurang konsentrasi saya sampaikan Itok yang menyetir mobil lapangan atau jeep, yang bisa dikendalikan lebih leluasa dan santer itu.
Tiba-tiba dibelokkan jalan dimana disitu banyak ditumbuhi pohon bambu mobil agak oleng dan berhenti. Setelah diperiksa ternyata ban kiri belakang kempes.
Dikeremangan malam itu dengan cahaya HP generasi ketika itu akhirnya sukses mengganti ban. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi. “Hati-hati, jangan sampai kempes lagi, cadangan Cuma satu,’ kata Itok langsung saya sahut: yaa… iyalah.’
Begitu mobil berjalan, saya menoleh ke belakang. Betapa kagetnya saya, ada seorang wanita rambut panjang baju serba putih muka rata duduk di pojok kanan belakang. “Tambah penumpang nih,” kata batin saya.
Bagi saya melihat hal tersebut saya anggap biasa. Itu makhluk dari dunia lain sebagai salah satu bukti kebesaran Tuhan.
Dengan santai dan pelan saya ngomong ke Itok, ‘Tok coba lihat di spion tengah menurutmu terlihat apa? Seketika Itok sambil berseloroh dan berkali-kali memperhatikan di spion menjawab tidak ada apa-apa Lantas bilang “memang ada apa Wid?” Saya diam saja. Dialihkan pembicaraan lain.
Gila, malam itu Itok mengendarai mobil kenceng. Apalagi kondisi jalan sepi. Biar tidak kantuk kita berdua sambil ngobrol seru.
Tiba-tiba Itok bilang mungkin setelah sekian kali memperhatikan spion tengah: “ pojok belakang tampak putih-putih”, saya sahut: tambah penumpang dari dunia lain. Kemudian kita berdua saling bersahutan seru dan penuh canda.
Kira-kira perjalanan sekian kilometer, tiba-tiba mesin mobil berhenti begitu saja. “Kenapa Tok?” Tak tahu,” jawab Itok. Pada saat itu di depan sekitar 25 meter terlihat jelas ada manusia tanpa kepala menyeberang jalan.
“Tok-Tok diam, perhatikan depan,” Itok diam saja. Tidak komentar apa-apa. Malah kesempatan itu digunakan untuk menggeliatkan badan.
Dengan cahaya lampu jalan manusia tanpa kepala itu tampak pake baju serba hitam. Dalam menyeberang jalan seperti biasa kayaknya manusia. Bagian leher kadang tampak warna merah menyala dan ssssstttt… menghilang begitu saja.
Bersamaan menghilangnya makhluk tanpa kepala itu tiba-tiba mesin mobil menyala sendiri.
Padahal saat itu juga Itok mau turun meriksa kondisi mesin. “Alhamdulillah nyala sendiri,” kata Itok. “Ini kehendak Tuhan, Alhamdulillah,” kataku.
Anehnya, posisi mobil menepi kekiri terpakir manis ditepi jalan raya itu. Kesempatan itu digunakan untuk istirahat dan duduk dalam mobil. Saya perhatikan penumpang lain yang tadinya duduk dipojok bagian belakang kanan sudah tidak ada. Mungkin sudah turun setelah ketemu temannya makhluk tanpa kepala tadi.
Beberapa waktu kemudian kita melanjutkan perjalanan dan lancar selamat sampai tujuan ditempat proyek Itok kerja.*Demikian disampaikan Widodo kepada TEBAR










