Tanaman Sehat, Panen Cabai Mantap
MAJALAHTEBAR.com. Naiknya harga pangan akibat gejolak ekonomi global belakangan ini melegakan petani. Pasalnya, meski harga sarana produksi ikut terkerek, lonjakan harga cabai yang sempat diatas Rp 50 ribu per kilo memperlebar margin keuntungan saat panen.
Harga yang menggairahkan tersebut membuat petani tidak ragu menyiapkan sarana produksi berualitas. Menggunakan pupuk mahal, bagi A. Novi Silitonga tak jadi soal.
“Yang penting tanaman sehat dan panen cabai bagus. Mantap lah,” ungkap petani Desa Lobusiregar Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini beberapa waktu lalu.
Novi mengaku lebih sulit mengendalikan harga dibandingkan dengan mengendalikan hama. Harga tidak kelihatan, hari ini naik besok bisa jadi turun. Petani hanya bisa mengikuti harga pedagang.
Lain halnya dengan hama. Kutu, ulat dan lainnya masih kelihatan. “Asal jangan sampai telat nyemprot, masih aman. Begitu juga dengan penyakit seperti busuk buah, masih bisa dikendalikan,” terangnya.
Mengapa petani ini begitu optimistis menghadapi gangguan hama dan penyakit? Ternyata, Novi mendapatkan pendampingan petugas lapangan dari PT Saprotan Utama Nusantara.
Jika menemukan kendala budidaya, Novi langsung menghubungi petugas untuk mendapatkan solusi produk yang tepat berikut cara pengendalian. Risiko kerusakan tanaman pun berhasil dieliminasi.
Hama Kutu Kebul (Bemisia tabacci) tuntas terkendali sebelum bertindak sebagai vektor virus kuning. Novi menggunakan insektisida TORAM 25 SP dan STARMEX 18 EC.
ROTASI INSEKTISIDA
Jika ingin melakukan rotasi insektisida, Novi menggantinya dengan Avidor 25 WP. Rotasi dalam penggunaan pestisida penting untuk mencegah hama atau penyakit resisten.
Namun, bagi petani yang ramah ini, memperkuat tanaman dengan pemupukan lebih penting. Tanaman sehat akan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi hama dan penyakit.
Untuk pemupukan tanaman cabai miliknya dengan paket lengkap PT SUN seperti FERTIPHOS, KNO3 Pak Tani merah dan putih, dan MKP Pak Tani. KNO3 merah (CPN)digunakan pada fase vegetatif umur 7 – 35 HST. Dosisnya 4 sendok makan CPN dan 3 sendok makan Ultradap larutkan dalam 10 liter air, dikocorkan/disiramkan untuk 50 tanaman (200 ml/pohon).
Fase generatif pembentukan bunga dan buah (umur 42- 63 HST) dengan KNO3 putih (PN) sebanyak 4 sendok. Larutkan bersama 3 sendok makan MKP dalam 10 liter air. Kocorkan/siramkan untuk 50 tanaman (200 ml/pohon). Memasuki fase pengisian buah (diatas 70 HST) penggunaan PN 6 sendok makan dengan cara yang sama.
Lahan miliknya yang 1.600 m2 atau sekitar 2.800 batang menghasilkan 700 – 800 gram per pohon. Novi pun tenang karena sarana pruduksi tersedia terus di kios terdekat.*










